Dalam dunia kuliner, apakah makanan benar-benar memiliki gender? Belakangan ini, muncul sebuah perbincangan yang menarik terkait stereotip gender dalam konteks hidangan seblak. Seolah-olah, seblak diidentikkan secara eksklusif dengan perempuan, yang kemudian menciptakan stigma bagi lelaki yang ingin menikmati hidangan seblak ini.
Dalam video TikTok @nazwaazulf menggambarkan sebuah momen yang memperkuat pandangan bahwa seblak adalah makanan perempuan. Dalam video tersebut, dua lelaki yang sedang ditanya oleh perempuan yang memvidiokan mereka yang merupakan sahabat mereka, si perempuan bertanya “mau kemana bon” jawab mereka berdua “mau beli rokok” tapi nyatanya mereka malah diam-diam membeli seblak, temannya yang lain justru mengabadikan momen tersebut dengan video, lalu menyelipkan ejekan dengan perkataan "ikhh beli seblak."
Ironisnya, di akhir video, muncul perdebatan kecil ketika satu dari mereka memesan spatula (spageti tulang), dengan argumen bahwa spatula juga dianggap makanan perempuan. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar hidup dalam masyarakat di mana makanan memiliki gender?
Sejarah singkat stereotip gender
Pada era 1990-an, Judith Butler memperkenalkan konsep performativitas gender melalui bukunya "Gender Trouble: Feminism and Subversion of Identity", yang menyatakan bahwa seks dan gender adalah konstruksi sosial.
Hal ini kemudian membawa konsep Gender identity memunculkan stereotip gender, yang digambarkan sebagai pandangan umum mengenai perilaku yang dianggap sesuai untuk pria dan wanita. Ini mencerminkan keyakinan tentang atribut karakteristik yang seharusnya dimiliki oleh masing-masing gender, seperti yang dijelaskan dalam buku "Psikologi Pendidikan" oleh Santrock, J. W. Stereotip ini membatasi perkembangan individu dan membuatnya sulit untuk mengambil keputusan hidup secara mandiri.
Bagaimana stereotip gender menjadi bagian dari persepsi individu?
Menurut penelitian oleh Miller & Ruble yang dikutip dalam jurnal oleh Fatimah Saguni yang berjudul Pemberian Stereotype Gender, kita mulai mengenali stereotip gender saat masih Anak-anak sekitar usia 5 tahun. Anak-anak mulai melihat laki-laki sebagai sosok yang kuat namun kadang juga negatif, sementara wanita sering dianggap lemah dan lebih baik hati. Meskipun anak-anak bisa juga menjadi lebih fleksibel dalam pandangan gender mereka dengan proses selama bertahun-tahun di sekolah dasar, namun stereotip gender tersebut bisa saja tetap tertanam dalam pikiran mereka dengan melihat lingkungan sekitar dan lingkungan sekolah mereka yang terkadang masih kental dengan stereotip gender.
Menggali akar stereotip gender dalam makanan
Perdebatan di atas menggambarkan bagaimana stereotip gender dapat merasuki aspek sehari-hari seperti pilihan makanan. Seblak, sebagai hidangan pedas yang lezat khas Sunda ini, seolah menjadi lambang perempuan. Pertanyaannya, mengapa makanan sampai bisa dikategorikan berdasarkan jenis kelamin?
Kalau kita lihat kebelakang lagi sebenarnya sejak kapan si makanan itu mempunyai gender? kalau kita lihat kembali di dalam sejarah stereotip gender seputar makanan, stereotip ini mulai muncul di Amerika Serikat pada 1870-an, saat perempuan mulai berperan di luar rumah tangga. Seiring perempuan lebih aktif di ruang publik, banyak tempat makan khusus perempuan bermunculan, dan media mulai menggambarkan makanan berdasarkan gender. Dalam bukunya "The Sexual Politics of the Flesh (1990)," Carol J. Adams mencatat bahwa perbedaan pilihan makanan ini telah berkembang di seluruh dunia, disertai dengan cerita-cerita klasik yang menggambarkan perbedaan pilihan makanan antara raja dan ratu. Menurut hasil penelitian dari Luke Zhu di Universitas Manitoba konsep ini kemudian terus berkembang, dengan makanan sehat dikaitkan dengan feminitas dan makanan tidak sehat dengan maskulinitas.
Kenapa perempuan diidentikan dengan seblak atau makanan pedas?
Sebenarnya belum ada penelitian resmi terkait kenapa perempuan diidentikan dengan seblak ataupun makanan pedas namun sepertinya pada zaman sekarang makanan pedas atau seblak itu sedang tren di Indonesia khususnya di kalangan Anak-anak milenial seperti yang di beritakan oleh salah satu artikel bahwa penjualan makanan pedas termasuk seblak di platform online khususnya Tokopedia meningkat secara signifikan selama tahun 2022.
Di kutip dalam jurnal Gender dan Stereotype yang di tulis oleh Hanny Hafi, disebutkan bahwa manusia memiliki sekitar 10.000 reseptor rasa yang digunakan untuk mendeteksi empat rasa dasar, yaitu manis, asin, asam, dan pahit. Indera perasa perempuan cenderung lebih sensitif dibandingkan dengan laki-laki. Oleh karena itu, perempuan mungkin lebih bisa merasakan manfaat mengkonsumsi makanan pedas sebagai cara untuk mengurangi stres daripada laki-laki. Hal ini bisa menjadi alasan mengapa sebagian besar perempuan lebih suka mengkonsumsi makanan pedas, seperti seblak, yang akhirnya makanan tersebut menjadi dikaitkan dan ikonik dengan perempuan karena mereka sering mengkonsumsinya.
Sebenarnya stereotip gender mengenai makanan ini tidak berbahaya ataupun menimbulkan dampak yang signifikan. Namun, hal ini dapat digunakan sebagai alat untuk menormalisasikan perilaku diskriminasi gender baik bagi pria ataupun wanita yang bisa mengakibatkan hilangnya kebebasan seseorang dalam memilih makanan yang mereka inginkan.
Menuju keanekaragaman kuliner tanpa batasan gender
Pesan yang ingin disampaikan melalui momen dalam video tersebut adalah perlunya kita untuk membebaskan diri dari stereotip gender, bahkan dalam hal sekecil pilihan makanan. Mari kita Bersama-sama menikmati keanekaragaman kuliner tanpa merasa terkekang oleh norma-norma gender yang tidak perlu. Makanan bukanlah ranah yang mengenal batasan gender, sebaliknya, ia adalah kesenangan yang dapat dinikmati bersama tanpa adanya pembatasan ataupun stigmatisasi.
Sumber :
TikTok @nazwaazulf)
Paul Freedman, The Conversation, Dec 31, 2019 · 08:30 pm https://scroll.in/article/948289/steak-for-the-gentleman-salad-for-the-lady-how-foods-came-to-be-gendered
Anastasya Lavenia, Rabu, 29 Jun 2022 12:00 WIB, https://www.cxomedia.id/general-knowledge/20220628123617-55-175382/food-gender-benarkah-sebuah-stereotip
Buku Gender trouble; Feminism and Subversion of Identity
Buku Psikologi Pendidikan Oleh Santrock, J. W
Buku The Sexual Politics of the Flesh (1990) Oleh Carol J. Adams
Fatimah Saguni, PEMBERIAN STEREOTYPE GENDER, https://media.neliti.com/media/publications/138333-ID-pemberian-stereotype-gender.pdf
Hanny Hafiar, GENDER DAN STEREOTYPE, https://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2011/06/dender_dan_stereotype.pdf
https://kumparan.com/kumparanfood/riset-generasi-milenial-paling-sering-beli-makanan-pedas-basreng-jadi-favorit-1zfX1JQz6wM
https://linisehat.com/makan-pedas-dan-4-hal-lain-untuk-meredakan-stres/
%20(1).jpg)
Comments
Post a Comment